Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Co-Op Co-Op terhadap Pemecahan Masalah dan Penalaran Matematis Mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP YPM Bangko

Ferinaldi

(Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Padang)

 

Abstract : This research begins from the lack of students’ problem solving ability and logical ability in Geometry Transformation learning, it is caused by the lack of students’ activeness in studying, searching, and finding the information or data individually to be processed become concept, principle, theory or conclusion, beside that the lecturer has not give attention to the students’ learning style in Geometry Transformation learning yet. This research purposes to reveal the effect of Co-Op Co-Op learning Model toward problem solving and logical ability of students STKIP YPM Bangko at Mathematics Education Program.

This research is quasi experiment reseach by using Randomized Control Group Only Design research. Population of this research is all of sixth semester students STKIP YPM Bangko and the samples are class C and D. Submitted hypothesis is tested by using t-test and two-ways varians analysis. The counting is helped by IBM SPSS 20 for windows program.

Based on the finding and discussion of the reserach, it is concluded as follow: problem solving ability and students’ mathematic logical ability entirely as well as those who have visual, auditory and kinesthetic learning style that have been taught is higher than students who are taught by conventional model. second,the problem solving ability of students who have visual learning style that are taught by using Co-Op Co-Op model is higher than those who are taught by conventional model, there is no interaction between Co-Op Co-Op Learning model and students’ learning style toward problem solving ability and students’ mathemathic logical ability.

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Co-op Co-op, Pemecahan Masalah, Penalaran Matematis Mahasiswa.


Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan penting dalam pembangunan bangsa dan negara, oleh karena itu pemerintah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan agar anak bangsa memiliki akhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab. Peningkatan mutu pendidikan dilakukan disemua cabang ilmu pengetahuan termasuk Matematika.

Matematika termasuk salah satu bidang ilmu yang digunakan banyak ilmu pengetahuan lain, sehingga matematika dikatakan sebagai pelayan sekaligus ratunya ilmu pengetahuan. Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa banyak ilmu-ilmu dan pengembangannya bergantung dari matematika.

Salah satu tujuan pembelajaran matematika menuntut penguasaan matematika dari siswa/mahasiswa sehingga berbagai kompetensi yang diharapkan dapat tercapai dengan baik dan optimal baik dari segi pemahaman konsep, kemampuan komunikasi, kemampuan pemecahan masalah, maupun kemampuan panalaran matematis. Tujuan pembelajaran tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan pembelajaran matematika dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan. Dalam Kepmendiknas Nomor 232 tahun 2000 menyatakan bahwa:

Program sarjana diarahkan pada hasil lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai berikut: (1) menguasai dasar-dasar ilmiah dan ketrampilan dalam bidang keahlian tertentu sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya, (2) mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama, (3) mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidang keahliannya maupun dalam berkehidupan bersama di masyarakat , (4) mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian yang merupakan keahliannya.

Berdasarkan pedoman dari Kepmendiknas Nomor 232 tahun 2000, perguruan tinggi sebagai salah satu pencetak kader guru khususnya guru matematika harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dibidangnya dan mampu menerapkan ilmu sesuai dengan keahliannya yaitu matematika. Diantaranya adalah kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis. Kemampuan matematis ini perlu dikembangkan agar mahasiswa mampu bersikap dan berperilaku sesuai dengan bidang keahliannya serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk menghasilkan lulusan yang terbaik, perguruan tinggi harus berpedoman kepada kurikulum nasional yang diputuskan oleh mentri pendidikan, tujuannya adalah sebagai rambu-rambu penjamin mutu. Sebagaiamana yang telah diputuskan oleh Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 045/U/2002 bahwa kurikulum yang berlaku secara nasional untuk setiap program studi merupakan rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan sesuai dengan program studi yang ditempuh. Selain itu, Undang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 38 menegaskan kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.

Didalam kurikulum pendidikan tinggi, geometri transformasi masuk ke ranah kelompok mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK) yang merupakan kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama untuk memberikan landasan penguasaan ilmu dan ketrampilan tertentu. Dalam katalog STKIP (2012:85) mendeskripsikan mata kuliah Geometri Transformasi memberikan konsep dan prinsip-prinsip transformasi pada bidang datar. Materinya meliputi: transformasi, isometri, komposisi transformasi dan beberapa isometri, antara lain pencerminan, setengah putaran, geseran, putaran, refleksi geser, kesebangunan dan dilatasi. Tujuan pembelajaran pada mata kuliah ini adalah untuk menjadikan mahasiswa menguasai konsep dan prinsip-prinsip transformasi pada bidang datar, terutama dalam menganalisis dan mengembangkan konsep Geometri Transformasi, menganalisis dan mengembangkan teori-teori tentang transformasi, serta menerapkannya dalam mengembangkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip beberapa isometri.

Atas dasar tujuan pembelajaran Geometri Transformasi tersebut maka diperlukan suatu pembelajaran yang efektif dan bermakna sehingga mahasiswa dapat menguasai konsep-konsep Geometri Transformasi, serta dapat mencapai berbagai kopetensi yang diharapkan baik dari segi kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan panalaran matematis. Dengan memahami Geometri Transformasi, mahasiswa akan mampu memecahkan masalah, menalarkan, mengkomunikasikan ide-ide pemikirannya dan menghubungkan ide-ide dalam bidang Geometri Transformasi dengan bidang lain. Namun demikian, hal ini bertolak belakang dengan kenyataan yang ditemukan di Program Studi Pendidikan Matematika STKIP YPM Bangko, karena kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa masih rendah.

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan, didapat beberapa alasan mahasiswa tidak serius dalam pembelajaran Geometri Transformasi, di antaranya mahasiswa menganggap Geometri Transformasi adalah mata kuliah yang sulit dipahami, karena mata kuliah ini memerlukan pemahaman, penalaran matematis untuk memecahkan permasalahan. Dosen belum sepenuhnya bisa mensiasati mahasiswa untuk belajar aktif dan menyenangkan sehingga proses pembelajaran banyak didominasi oleh dosen seperti menggunakan metode ceramah, tanya jawab, memberikan latihan, membekali mahasiswa dengan pekerjaan rumah. Selain itu, dosen kurang melibatkan mahasiswa dalam proses belajar mengajar sehingga kesempatan mahasiswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya kurang terjembatani. Menurut Deporter et all (2010:110) mengatakan gaya belajar merupakan kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, sekolah, dan dalam situasi-situasi antar pribadi.

Permasalahan di atas merupakan kondisi yang harus menjadi perhatian sungguh-sungguh bagi dosen. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk menciptakan kondisi pembelajaran agar mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa dengan memperhatikan gaya belajar dari mahasiswa agar hasil belajar yang diperoleh lebih optimal.

Model pembelajaran Co-op Co-op melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab dan bekerja keras menyelesaikan mini topik yang di percayakan oleh tim, setelah itu memaparkan dan mendiskusikan dalam kelompok kecil. Hal ini dapat membuat mahasiswa lebih kreatif dalam mengeluarkan ide-ide, saling berbagi pengalaman dan bekerja sama dalam kelompok kecil untuk pemecahan mini topik, kemudian mendiskusikan dalam satu tim untuk menggali lebih topik yang telah dipilih dan memaparkan di kelas dalam bentuk presentasi dan diskusi. Penerapan model pembelajaran Co-op Co-op dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis Geometri Transformasi agar lebih baik.

Langkah- langkah pembelajaran dengan model Co-op Co-op menurut Nurasma (2008:84) adalah (1) Diskusi kelas yang terpusat pada siswa, (2) Seleksi dan pembentukan kelompok, (3) Seleksi topik kelompok, (4) Seleksi topik kecil, (5) Persiapan topik kecil, (6) Presentasi kelompok kecil, (7) Persiapan presentasi kelompok, (8) Presentasi kelompok, (9) Evaluasi.

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa masih rendah pada mata kuliah Geometri Transformasi. Pada penelitian ini juga akan dilihat pengaruh gaya belajar mahasiswa terhadap kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa

Kemampuan pemecahan masalah merupakan hasil utama dari suatu proses pembelajaran. Menurut Sumarmo (Fauzan, 2011) beberapa indikator pemecahan masalah matematik adalah (1) Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan, (2) Merumuskan masalah matematik atau menyusun model matematik, (3) Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam atau di luar matematika, (4) Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan menggunakan matematika secara bermakna.

Kemampuan penalaran dalam matematika adalah suatu kemampuan menggunakan aturan-aturan, sifat-sifat atau logika matematika untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang benar. Menurut Shurter dan Piece (Fauzan, 2011) memberikan pengertian penalaran adalah sebagai proses pencapaian kesimpulan logis berdasarkan fakta dan sumber yang relevan.

Indikator kemampuan penalaran dalam penelitian ini adalah (1) mengajukan dugaan, (2) Menarik kesimpulan, menyusun bukti dan memberikan alasan (3) memeriksa kesahihan suatu argumen. Rubrik dijadikan sebagai pedoman penskoran untuk penalaran matematis mahasiswa.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah (1) Kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (2) Kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (3) Kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar audiotori yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (4) Kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran Co-op Co-op dengan gaya belajar mahasiswa terhadap kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa.

Metode

Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai, maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasy experimental). Menurut Sukmadinata (2006:194) penelitian eksperimen merupakan pendekatan penelitian kuantitatif yang paling penuh, dalam arti kata memenuhi persyaratan untuk menguji hubungan sebab akibat.

Variabel pada penelitin ini terdiri dari (1) variabel bebas yaitu perkuliahan dengan model pembelajaran Co-op Co-op, (2) variabel moderator yaitu gaya belajar mahasiswa, dan (3) variabel terikat yaitu kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran mahasiswa. Desain penelitian yang digunakan adalah Randomized Control Group Only Design

Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Matematika Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) YPM Bangko yang mengambil mata kuliah Geometri Transformasi tahun akademik 2012/2013 yaitu terdiri dari 4 kelas yang berjumlah 174 mahasiswa.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara acak sehingga didapat kelas B sebagai kelas eksperimen dan kelas C sebagai kelas kontrol.

Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, maka teknik yang digunakan dalam menganalisis data untuk uji hipotesis adalah uji-t karena membandingkan dua kelompok sampel (hipotesis 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9), Hipotesis 5 dan 10 menggunakan Anava Dua Arah, perhitunannya dibantu IBM SPSS 20 for windows.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Setelah serangkaian penelitian selesai dilaksanakan, selanjutnya dilakukan analisis terhadap data yang dihasilkan. Analisis data dilakukan untuk mengungkapkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis setelah dilaksanakan model pembelajaran Co-op Co-op, hasil pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual , auditori dan kinestetik, serta ada atau tidaknya interaksi antara model pembelajaran Co-op Co-op dengan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa.

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa rata-rata pemecahan masalah mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi dari rata-rata pemecahan masalah mahasiswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional, berdasarkan data simpangan baku maka pemecahan masalah mahasiswa di kelas kontrol lebih menyebar dibandingkan pemecahan masalah mahasiswa kelas eksperimen kerena simpangan baku pemecahan masalah kelas eksperimen lebih kecil dari kelas kontrol. Jika ditinjau dari gaya belajar diketahui rata-rata kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual di kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual di kelas kontrol, rata-rata kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori di kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kemampuan pemecahan masalah mahasiswa di kelas kontrol, rata-rata kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik di kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik di kelas kontrol.

Untuk rata-rata kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op jauh lebih tinggi dari rata-rata kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional, Data simpangan baku kemampuan penalaran matematis mahasiswa di kelas kontrol lebih besar dibandingkan kemampuan penalaran matematis mahasiswa di kelas eksperimen.

Jika ditinjau dari gaya belajar diketahui rata-rata kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual di kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual di kelas kontrol, rata-rata kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori di kelas eksperimen jauh lebih tinggi dibanding kemampuan pemecahan masalah mahasiswa di kelas kontrol, rata-rata kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik di kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik di kelas kontrol.

Uji normalitas dan homoenitas dilakukan terhadap nilai tes kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa kelas eksprimen dan kelas kontrol, baik yang memiliki gaya belajar visual, auditori maupun kinestetik, Perhitungan pengujian persyaratan analisis uji normalitas dibantu dengan program IBM SPSS 20 for windows

Dari hasil perhitungan normalitas, diperoleh nilai signifikansi semua data 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal yaitu untuk: 1) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa kelas eksprimen dan kelas kontrol, 2) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual kelas eksprimen dan kelas kontrol, 3) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori kelas eksprimen dan kelas kontrol, 4) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik kelas eksprimen dan kelas kontrol, 5) nilai tes penalaran matematis mahasiswa kelas eksprimen dan kelas kontrol, 6) nilai tes penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual kelas eksprimen dan kelas kontrol, 7) nilai tes penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori kelas eksprimen dan kelas kontrol, dan 8) nilai tes penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik kelas eksprimen dan kelas kontrol.

Dari hasil perhitungan homogenitas diperoleh bahwa nilai signifikansi semua data 0,05, maka dapat disimpulkan data mempunyai variansi yang homogen yaitu untuk: 1) nilai tes pemecahan masalah kelas eksprimen dan kelas kontrol, 2) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual kelas eksprimen dan kelas kontrol, 3) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori kelas eksprimen dan kelas kontrol, 4) nilai tes pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik kelas eksprimen dan kelas kontrol, 5) nilai tes penalaran matematis mahasiswa kelas eksprimen dan kelas kontrol, 6) nilai tes penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual kelas eksprimen dan kelas kontrol, 7) nilai tes penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori kelas eksprimen dan kelas kontrol, dan 8) nilai tes penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik kelas eksprimen dan kelas kontrol.

Uji hipotesis pertama diperoleh thitung 2,510 > t tabel 1,6641 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang diajarkan dengan model Co-op Co-op lebih tinggi dari pada mahasiswa yang diajarkan dengan model konvensional.

Uji hipotesis ke dua diperoleh thitung 4,500 > t tabel 1,7106 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

Uji hipotesis ke tiga diperoleh thitung 3,524 > t tabel 1,7171 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

Uji hipotesis ke empat diperoleh thitung 2,298 > t tabel 1,6972 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

Uji hipotesis ke lima nilai diperoleh signifikansi pada baris interaksi adalah 0,276 > 0,05. Ini berarti tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah mahasiswa.

Uji hipotesis ke enam diperoleh thitung 7,995 > t tabel 1,6641 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang diajarkan dengan model Co-op Co-op lebih tinggi dari pada mahasiswa yang diajarkan dengan model konvensional.

Uji hipotesis ke tujuh diperoleh thitung
4,691 > t tabel 1,7106 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

Uji hipotesis ke delapan diperoleh thitung
5,200 > t tabel 1,7171 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional

Uji hipotesis ke sembilan diperoleh thitung
4,280 > t tabel 1,6972 pada taraf = 0,05. Maka hipotesis nol ditolak berarti hipotesis kerja diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

Uji hipotesis ke sepuluh diperoleh nilai signifikansi pada baris interaksi adalah 0,613 > 0,05. Ini berarti tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan kemampuan penalaran matematis mahasiswa.

Model pembelajaran Co-op Co-op juga membuat mahasiswa lebih aktif, agresif dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan suatu materi, karena dalam model pembelajaran Co-op Co-op diawali dengan pembagian tugas individu dan penyelesaiannya boleh berpedoman dari berbagai referensi, setelah itu didiskusikan secara kelompok kecil, kelompok besar dan diskusi kelas. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Glasersfeld dalam Nurasma (2008:33) “ dalam pembelajaran cooperative peserta didik harus mengungkapakan bagaimana ia melihat persoalan dan apa yang akan dibuatnya dengan persoalan itu. Dengan demikian akan tercipta refleksi yang menuntut kesadaran terhadap apa yang difikirkan dan memberikan kesempatan secara aktif emberikan abstraksi”.

Berdasarkan pengamatan dalam proses pembelajaran menggunakan model Co-op Co-op, mahasiswa nampak antusias dan semangat dalam menyelesaikan sub materi yang di percayakan. Sebagian mahasiswa ada yang sudah mempersiapkan buku referensi, ada yang lansung mencari referensi di perpustakaan bahkan ada yang online untuk mencari referensi pembanding. Dengan beberapa tahapan dalam model pembelajaran Co-op Co-op membuat kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa lebih terasah.

Melalui model pembelajaran Co-op Co-op ini, mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual, auditori maupun kinestetik dapat meningkatkan kreativitasnya dalam belajar, karena didukung pembelajaran berkelompok, dan kebebasan dalam mencari referensi untuk mendapatkan materi, sehingga mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual, auditori maupun kinestetik dapat mempelajari dan menggali sendiri kemudian memberikan informasi baru kepada anggota kelompok.

Pada kelas konvensional materi dan konsep-konsep diperkenalkan dalam bentuk ceramah. Mahasiswa lebih banyak menunggu penjelasan dari dosen dan kurang mencari teori sendiri dari buku atau sumber yang telah mereka miliki. Dalam pembelajaran ini hanya beberapa orang saja mahasiswa yang mau bertanya dan memberikan tanggapan tentang materi pembelajaran yang diajarkan dosen. Dalam mengerjakan soal, latihan maupun tugas mahasiswa dapat mengerjakan jika soal-soal tersebut sudah pernah di bahas atau dikerjakan, apabila diminta untuk mengerjakan soal yang berkaitan dengan pemecahan masalah baik dalam bentuk soal non rutin, open endeed maupun realword sebagian besar mahasiswa bingung dan tidak bisa menyelesaikannya, mahasiswa masih kurang dalam menerapkan strategi dan menyelesaikannya, mahasiswa juga salah dalam menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, mengakibatkan hasil akhirpun tidak sesuai dengan yang diharapkan, dengan demikian kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis mahasiswa belum diberdayakan secara maksimal.

Kesimpulan

Penelitian ini merupakan penelitian yang membandingkan penggunaan dua model pembelajaran, yaitu model pembelajaran Co-op Co-op dan pembelajaran konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan matematis khususnya kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa pada mata materi fungsi (surjektif, injektif, bijektif), transformasi, pencerminan, isometri (langsung dan berlawanan), komposisi transformasi hingga invers transformasi. Berdasarkan analisis data yang telah dikemukakan pada bab IV, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari penelitian ini, yaitu:

  1. Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang diajarkan dengan model Co-op Co-op lebih tinggi daripada mahasiswa yang diajarkan dengan model konvensional
  2. Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional
  3. Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional
  4. Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional
  5. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah mahasiswa
  6. Kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang diajarkan dengan model Co-op Co-op lebih tinggi daripada mahasiswa yang diajarkan dengan model konvensional
  7. Kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar visual yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional
  8. Kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar auditori yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional
  9. Kemampuan penalaran matematis mahasiswa yang memiliki gaya belajar kinestetik yang diajar dengan model pembelajaran Co-op Co-op lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional
  10. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan penalaran matematis mahasiswa

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukan, peneliti mengemukakan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Dosen yang mengampu mata kuliah Geometri Transformasi sebaiknya menerapkan model pembelajaran Co-op Co-op dalam meningkatkan kemampuan matematis mahasiswa, khususnya kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa.
  2. Bagi peneliti berikutnya hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu dasar dan masukan dalam melakukan penelitian yang relevan, dan dapat meneliti variabel lainnya yang turut menentukan keberhasilan belajar mahasiswa.

 

Catatan:

Artikel ini ditulis dari tesis penulis di Pascasarjana Universitas Negeri Padang dengan tim pembimbing Prof. Dr. I Made Arnawa, M.Si dan Dr. Edwin Musdi, M.Pd.

 

Daftar Rujukan

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Deporter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2010. Quantum Learning. Bandung. Kaifa

 

Fauzan, Ahmad. 2011. Modul 1 Evaluasi Pembelajaran Matematika. Pemecahan Masalah Matematika. Evaluasi matematika.net: Unversitas Negeri Padang

 

Huda, Miftahul. 2011. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur Dan Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

NurAsma. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: UNP Press.

 

Slavin, Robert. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset Dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

 

Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

 

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Updated: 25 November 2015 — 19:11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.